Postingan

Menampilkan postingan dengan label opini

Atlet Kebaikan

Aku pernah baca, entah di mana, bahwa kebaikan dan iman itu bekerja seperti otot. Bila tak dilatih, ia akan melemah. Bila dipaksakan untuk melakukan kegiatan ekstrim, ia jadi sedikit menyakitkan, karena badan menjadi tegang dan malah tidak bisa melakukan apa-apa dalam beberapa waktu. Gampangnya, kita yang jarang berolahraga tidak akan kuat lari 10 km dalam satu waktu tanpa istirahat. Agar bisa sekuat itu, kita latih nafas kita, kaki kita, badan kita, sedikit demi sedikit. Mulai dari 1 km sehari, tambah jadi 2 km jika sudah dirasa kuat, begitu terus hingga bisa mencapai 10 km atau lebih.  Lagi-lagi proses. Proses yang cukup panjang dan membutuhkan konsistensi yang dimulai dari hal kecil. Tidak ada yang instan di dunia ini. Semuanya butuh usaha. Segala sesuatunya harus dilatih, kemudian ditambah porsinya sedikit demi sedikit agar bertambah kuat. Seperti otot badan, begitu pula otot kebaikan dan iman.  Mulai dari hal kecil yuk! Kita latih dari hal sederhana agar mereka m...
Sometimes, I take a pause in everything, to figure out what exactly I am doing right now. I need to reflect myself whether this is right for me or not, in line with my own faith or not, or just to see this one support my values or not. In that process, sometimes I hesitate to my own decision, re-question myself and I fall in a doubt. Is this really what I seek? Is this right? Is this what I want to do in my life? All of that question is overwhelming, so, I withdraw myself from everything to connect the patterns in my head, and when somebody asks, I just smile and said, everything is OK, but actually- not. However, I understand that I just have to face this problem by myself. I just have a messy brain, and the one who can fix it is myself only. Maybe, I can still play merry-go-round and still laugh like an idiot when I reach this stage, but inside, I feel I need to answer my own doubt. Then, I learn a wise wisdom from TED, that person (I forgot who) said this (It’s just a conclusion...

Meluaskan Pandangan pada Hujan

Mengapa hujan seolah meruntuhkan segala asa? Memelintir sanguin menjadi melankolis hatinya. Mengiyakan segala resah. Lalu kau terhanyut pada rasa, mengabaikan segala kata. Ditambah saat hati melemah, hanyut sudah pada gundah. Mengapa air langit itu terasa mengajak beromansa? Dalam perspektif manusia, sering disimbolkan sebagai air mata. Waktu yang tepat meluluh lantakkan luka, untuk berteriak seolah menjadi manusia paling malang sedunia. Setidaknya itu yang kulihat di layar kaca. Di sisi lain, hujan menumbuhkan tunas yang gersang. Bulirnya menghujam bumi, mengusik renik kehidupan. Membangun kehidupan baru, entah bagaimana caranya. Tetesannya mengajarkan untuk bergerak, menumbuhkan, perpanjangan tangan yang kuasa untuk kelangsungan alam. Ia menjaga stabilitas oksigen kita. Bila kau perhatikan, hujan mengajak berdialek untuk menjadi generator perubahan. Tandus dijadikannya hijau, debu diredam, menyegarkan udara, menyisakan bau yang khas. Hujan juga memperlambat tempo hidup ...
Dalam sebuah perjalanan luar kota yang memakan waktu berjam-jam, ada banyak sekali diskusi-diskusi menarik. Dari banyaknya obrolan itu, ada satu kalimat yang menarik perhatian saya, "Di dalam kebaikan belum tentu ada keikhlasan, tapi dalam keikhlasan sudah pasti ada kebaikan, Mba." Ketika menolong orang, menahan tombol lift untuk orang lain, ketika mentraktir makan teman, atau hal sederhana seperti tersenyum pada orang lain, adakah keikhlasan dalam hati kita? Ataukah itu hanyalah sebuah kebaikan yang berujung pada pengharapan lain? Bisa jadi nun jauh di lubuh hati, kita hanya ingin dilihat dan dicap baik. Entah tulus atau tidak, hanya masing-masing hati yang mengetahui, pada siapa dan apa hakikat kebaikan yang kita usahakan. Belajar ikhlas itu tidak mudah ya. Sekolahnya di alam bernama kehidupan, yang indikator kelulusannyapun sulit ditentukan. Tapi tidak apa-apa, setidaknya setiap kita mengusahakan keikhlasan, akan ada secercah kebaikan yang siap menyambut di de...

Ketika Idealisme Membentur Kapitalisme

Jangan terlalu membenci sesuatu, karena bisa saja Allah balik hatimu untuk melihat sisi lain hal yang kamu benci itu. Menggelikan ya? Tapi itulah yang terjadi pada saya, yang dulu berpikir sistem yang mendewakan uang itu sangat kotor. Kapitalisme yang berlebih itu menyesakkan dada ketika ada orang lain yang masih kelaparan mengesot meminta sedekah. Saya? Memilih menghindar, lalu label kebencian itu mulai tertanam. Iya, seidealis itu, setidak maunya terlibat dalam dunia kapitalis yang hanya memikirkan uang, uang, dan uang. Meja berbalik, begitu pula saya kini. Bekerja di sebuah perusahaan dengan otak kapitalis. Berdalih menjual ruang untuk masyarakat, tapi abai pada kualitas ruang-ruang yang nantinya akan dihuni oleh si pemilik. Batin serasa saling mempertanyakan satu sama lain. Merasa bersalah ketika idealisme digerogoti. Lalu untuk apa saya berkuliah hingga sakit-sakitan bila pada akhirnya disetir oleh orang yang tak paham akan ruang? Saya sering beradu pendapat, yang saya rasa t...